Mengenang 16 Tahun Kematian Munir

 

MENGENANG 16 TAHUN KEMATIAN MUNIR

Pertama-tama saya ingin menyampaikan prolognya terlebih dahulu mengenai biografi singkat Munir dan peristiwa pembunuhan tragis yang menimpanya waktu dulu. Disini, saya juga akan mengkritisi dan menyinggung beberapa pihak yang terkait dengan kasus pembunuhan Munir yang menurut saya belum menemukan titik terangnya.
Hari ini tanggal 7 September 2020. Mungkin, bagi beberapa orang, hari ini adalah hari-hari seperti biasanya; rebahan, work from home, dan sebagainya. Namun, bagi saya hari ini adalah hari yang patut kita kenang, mengenai seseorang yang di mana beliau adalah seorang pejuang, seorang pahlawan, seorang penegak keadilan yang dibunuh secara mengenaskan dan yang lebih ironisnya lagi, yaitu dibunuh oleh saudara sebangsa sendiri. Dan teruntuk para komplotannya, persetan kalian dengan segala caranya yang ingin menghilangkan memori perjuangan Munir terhadap publik.
Beliau adalah Munir Said Thalib. Lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965. Nama ini selalu terngiang-ngiang di kepala kita dan selalu identik dengan keadilan yang beliau suarakan secara eksplisit di ranah publik. Beliau juga adalah seorang aktivis HAM dan Munir juga telah menangani banyak kasus, terutama mengenai kasus pelanggaran HAM dan kemanusiaan. Salah satu kasus besar yang beliau pernah tangani adalah pembunuhan aktivis buruh Marsinah yang diduga tewas di tangan aparat negara sendiri pada tahun 1993, yang sampai sekarang belum diusut tuntas nasib kedepan kasusnya seperti apa. Siapa dalang dari semua kekejian ini? Siapa pelaku spesifiknya? Tidak ada yang tahu.
Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pihak berwenang mengenai kasus ini. Misalnya, pada saat pemerintahan presiden ke-6. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menginstruksikan pembentukan tim pencari fakta (TPF) dengan mengeluarkan keputusan presiden berdasarkan Nomor 111 Tahun 2004 untuk menuntaskan kasus kematian Munir. Selanjutnya, pada tanggal 24 Juni 2005, tim pencari fakta menyerahkan 2 dokumen yang terdiri dari dokumen lengkap dan dokumen eksekutif. Dokumen tersebut disalin menjadi 7 bagian untuk di serahkan kepada 7 lembaga negara yang seharusnya menjaga dan bertanggungjawab penuh atas dokumen yang dipercayakan kepadanya. Ironisnya, dalam jangka waktu yang berjenjang dari pemerintahan SBY sampai Jokowi, pemerintah tidak pernah mengungkapkan hasil laporan tersebut kepada publik yang sejatinya menyimpan harapan kepada mereka. Bahkan, dinyatakan hilang. Sebentar, hilang atau dihilangkan?
Kemudian, yang menjadi tanda tanya besar bagi saya dan kawan-kawan seperjuangan adalah; apakah hilang dengan alasan yang logis atau sengaja dihilangkan karena takut menyinggung banyak pihak?
Masa dalam waktu yang berdekatan dengan kepemerintahan yang terus berganti-ganti tidak bisa diusut tuntas dan tidak sesuai dengan janji-janji kampanyenya saat pemilu. Cih, janji manis penguasa ternyata.
Hanya bualan belaka yang bisa dijanjikan oleh mereka terkait kasus pelanggaran HAM yang rata-rata tidak pernah dilacak sampai akar-akarnya. Hanya janji palsu yang dikemukakan. Hanya secuil kontribusi yang kalian publikasikan tetapi secara keseluruhan NOL BESAR!
Status bebas murni terhadap Pollycarpus yang diduga bertanggungjawab atas kematian Munir ternyata mengejutkan publik pada Agustus 2018 lalu. Sebelumnya, mantan pilot Garuda ini didakwa turut serta melakukan pembunuhan berencana dan pemalsuan dokumen dengan vonis hukuman 14 tahun penjara. Namun, aneh sekaligus konyolnya, Pollycarpus resmi menghirup udara bebas setelah menjalani 8 tahun dari 14 Tahun penjara atas remisi dan status bebas bersyarat yang telah ia terima sejak tahun 2014.
Pertanyaannya, apakah semudah itu mendapatkan remisi? Apakah sesuai dengan perbuatan yang telah ia lakukan dengan menghilangkan nyawa seseorang? Apakah tidak ada intervensi dari pihak-pihak tertentu? Siapa yang bisa memastikan bahwa orang ini berhak mendapatkan remisi tersebut? Apakah dengan dalih penyesalan dan berkelakuan baik lalu dia pantas diberikan remisi? Apakah dia menyebutkan siapa dalang dari skenario pembunuhan tersebut? Tidak ada sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan di atas seperti terus memutari kepala saya sampai saat ini.
Selanjutnya, saya akan mendeskripsikan alur dari pembunuhan Munir yang tragis secara singkat, padat dan jelas. Pada tanggal 6 September 2004, di atas langit Rumania. Munir Said Thalib menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pesawat Garuda GA-974 saat akan melanjutkan pendidikan S2 di Belanda. Berdasarkan hasil otopsi dari pemerintah Belanda, mereka menyatakan bahwa terdapat kandungan Arsenik mematikan di dalam tubuh pria berumur 38 Tahun tersebut. Tidak perlu saya sebutkan pelakunya, karena saya yakin kalian pasti sudah mengetahuinya. Rasanya mulut ini terbungkam jika ingin mengungkapkan kebenaran.
Mungkin hanya itu saja yang bisa saya sampaikan kepada kalian dan semoga bisa menginspirasi kalian untuk tidak takut menyuarakan kebenaran dan keadilan di negeri ini. Ingat, kita semua dalam pelukan demokrasi. Demokrasi menjamin kebebasan penganutnya dalam berekspresi ataupun menyatakan pendapat. Siapa saja boleh menyerukan hal yang seharusnya kita serukan secara nyata.
Terakhir, terlepas dari itu semua, saya menjadi teringat saat beliau berorasi dan membangkitkan semangat reformasi pada detik-detik kehancuran Orba.
"Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan."
- Munir Said Thalib
Cukup sekian dan terima kasih.